>Cuci Otak NII KW 9 – Bagian 1

>

Assalamualaikum Wr. Wb

Sebelumnya saya mau berterimakasih buat siapa saja yang mau membaca cerita ini. Ini kisah waktu saya berkenalan dengan NII. Mungkin cerita ini tidak penting dan bahkan bisa jadi ada yang menertawakan. Tapi apapun pandangan orang terhadap pengalaman ini, yang saya harapkan adalah bisa membawa manfaat yang baik. Amin

Karena butuh waktu yang lumayan, saya harap ceritanya dibaca sampai selesai. Terimakasih.

***

Saya adalah mahasiswi sebuah perguruan tinggi negeri di suatu kota di Indonesia. Saya hanya mahasiswi biasa, tentu saja menjalani aktivitas seperti biasa, dan seperti mahasiswi pada umumnya, juga memiliki orang terdekat. Awalnya saya waktu itu ke Jakarta, sekitar akhir bulan April 2007, menyelesaikan masalah saya di Jakarta, dengan oang terdekat saya, sebut saja namanya Aldi, anak Kedokteran salah satu universitas di Jakarta. Saya merasa ada perubahan yang teramat besar terhadap Aldi. Saya merasa ada yang tidak beres. Singkat cerita saya bertemu Aldi setelah hampir seharian mencari dia (mungkin dia sengaja nggak mau ketemu). Kami membicarakan masalahnya, dan setelah selesai, keesokan harinya dia ingin mengajak saya jalan. Hari Sabtu, Aldi menjemput saya, dan dia bilang ” Kita ketemuan ma temenku yah? Dia anak kedokteran Universitas terkenal di Jakarta, baru aja studi banding di Malaysia”

Terang aja saya jadi tertarik juga, apalagi katanya ada info penting tentang kedokteran, dan katanya penting banget buat Aldi. Akhirnya kita ketemuan di McD Pondok Indah. Sampai disana, kami sudah ditunggu di lantai 2, sudah ada 2 orang yang menunggu, yang satu cewek, namanya si Zakia, dia yang temen Aldi dan yang satu lagi cowok namanya si Awan, katanya anak BINUS, dan kelihatan sekali si A ini dari setelannya cukup tajir. Saat itu, saya diperkenalkan sebagai ceweknya Aldi, dan sebelum dipersilahkan duduk, saya diliatin dulu dari atas sampai bawah, dan dibilangin “Ooohhh”..

Setelah berbasa-basi sedikit, saya menanyakan perihal si Zakia yang habis studi banding di Malaysia. Saya bilang aja “Katanya dari malaysia yah? dibayarin kampus? waah kereen” . si Zakia dengan antusias menjawab bahwa katanya dia membawa info yang sangat penting banget buat Aldi, dan akhirnya kita ngobrol tentang persaingan dokter sekarang dan ke depannya bakal susah bgt. Karena apa? Katanya karena RI udah bobrok. Dan di saat saya benar-benar tertarik karena saya juga cukup muak dengan keadaan Indonesia seperti gini-gini aja, mulailah akhirnya si Zakia membuka Alquran nya dan bercuap-cuap mengenai Alquran. Awalnya, saya kagum, di zaman sekarang jarang saya melihat ada orang yang kemana-mana membawa Alquran. Tetapi, di situ saya melihat ada yang aneh karena ayat Alquran yang digunakan hanya setengah2 yang diartikan secara aneh pula, yah saya percaya saja, semangat banget malah ingin tau lebih lanjut, apalagi secara pribadi saya suka sekali acara diskusi. Kami mengobrol dari jam setengah 4 sampai tiba adzan maghrib, tapi nggak ada satupun yang mengajak saya sholat, baik si Zakia, si Awan dan bahkan Aldi, orang yang selama ini sholatnya bagus dan tidak pernah meninggalkan sholat. Saat itu, saya mengajak mereka sholat dan mereka menunda-nunda terus, katanya tanggung. Saya benar-benar heran, si Z ini bercuap-cuap tentang isi Alquran, tentang Islam, tapi kenapa saat Adzan memanggil, mereka bertiga kompak banget menunda lama. Karena gerah, khawatir waktu maghrib sudah mau habis, dengan sedikit memohon saya meminta agar diskusinya ditunda dulu, saya ingin sholat maghrib. Akhirnya, mereka membolehkan juga dan kita break buat sholat. Saat itu saya agak minder, saya yakin pasti si Zakia ini sholatnya bagus sekali dan khusyuk. Tapi sekali lagi, saya heran karena sholatnya juga tidak ada yang istimewa, malah sepertinya si Zakia ingin sekali agar sholatnya segera selesai. Setelah sholat maghrib, si Zakia melanjutkan acara diskusi. Semakin lama saya semakin merasa ganjal. Entahlah, saya saat itu merasa sangat capek karena lama kelamaan semakin merembet sama ajaran yang nggak sesuai ajaran islam menurut saya. Si Zakia berkali-kali bilang saya kafir kalau saya tidak ikut hijrah, belum ibadah 100% kalau belum hijrah, bahkan mengatakan kalau doa ibu saya selama ini tidak diterima karena masih di RI. Selama 18 tahun ini saya belum Islam. Tapi saya masih orang RI di negara yang kotor. Apalagi dia menyamakan Indonesia ini sama dengan Mekkah. Bahwa Indonesia ini adalah negara terpilih. Agak ngaco sebenarnya. (Ajarannya kurang lebih sama dengan teman-teman yang pernah diajakkin tilawah). Telinga saya benar-benar panas. Tapi saya berpikir hijrah tidak ada masalah, saya mengiyakan mau hijrah. Tetapi dia bilang harus pake duit, tentu saja itu hal yang aneh buat saya. Islam itu mudah, tidak seperti ini apalagi kesannya seperti pemaksaan. Akhirnya saya bilang sama Aldi saat itu juga ” Saya mau pulang “. Tetapi Aldi mencoba menguatkan saya,dan dia bilang sudah terlalu malam untuk pulang. Memang saat itu waktu menunjukkan pukul 11 malam. Si Zakia terus-menerus mencoba mendoktrin saya, dan saya tetap bersikekeuh ingin pulang, dan saya langsung sebel dingin karena Aldi sama sekali nggak bergeming. Hampir menangis, setengah berbisik saya bilang ke Aldi “ Ini sesat, ini gak bener, ayo kita pulang”. Si Zakia kelihatan gelisah juga, dan saya ingat sekali dia berbicara seperti ini. “”Knapa sih kamu sendiri yang gak yakin? Nabi aja waktu didatangi Jibril sampai diselimutin istrinya, apalagi kamu hanya manusia biasa yang baru aja mengetahui kebenaran? kalo kamu seperti ini, bisa jadi Aldi akan memutuskan sesuatu yang sangat penting tentang hubungan kalian”. Sebegitu berperankah dia dalam kehidupan Aldi?

Bersambung ke [Bagian-2]

Ditulis ulang oleh :
Bahtiar Rifai
Mantan NII KW 9
HP. 08132 8484 289
Email : bahtiar@gmail.com
Ilustrasi diambil dari [sini]

Advertisements