>Bom Bunuh Diri Membela Agama?

>

Artikel ini saya ambil dari situs : http://indonesiawaspada.com/, semoga berguna untuk kita semua yang pernah tersangkut ajaran NII KW 9.

Mendengar berita, bahwa pelaku bom bunuh diri di Kawasan Kuningan Jakarta adalah seorang pemuda belia yang taat beribadah, ikut kerohanian agama di tempat ibadah maupun di kampus, jadi mengingatkan saya saat awal umur 20 tahunan yang lalu.

Kebetulah saya lahir dari keluarga yang fanatik terhadapa agama. Masih terekam di ingatan saya, bila di televisi ada acara mimbar agama selain agama keyakinan kami, buru-buru orang tua memerintahkan untuk mematikannya, karena saat itu hanya ada satu chanel tersebut. Bila ada tetangga yang beragama lain sedang mengadakan hajatan, maka makanan dari hajatan itu dilarang untuk dimakan, kalau perlu segera dibuang ke tempat sampah. Bila ada bangunan ibadah baru atau sekolah baru yang berafiliasi dengan agama tertentu, misal agama alpha, maka disebutlah sedang ada program alphanisasi terhadap lingkungan tersebut.

Begitu juga bila berteman atau bergaul, harus berteman dengan yang memiliki agama keyakinan yang sama, bila ada teman yang berbeda agama harus jaga jarak, karena dia orang kafir, berbahaya, bisa menyeret kita pada api neraka. Dalam sekolahpun, saya disekolahkan di sekolah dengan afiliasi agama yang sesuai dengan agama keluarga saya, SD hingga SMA.

Pada saat SMP, saya disekolahkan di Pesantren. Pengasuh pesantren mungkin tidak bermaksud mengajarkan wacana tertentu pada anak didik santrinya, tapi kebetulan waktu itu wacana yang berkembang di kalangan santri adalah semangat menegakkan khalifah Islamiyah. Suatu sistem negara yang menjadikan AL Quran dan As Sunah sebagai hukum tertinggi dan bersifat internasional. Jadilah semua tahapan dan usaha untuk mewujudkan Khilafah itu masuk ke benak saya, dan tertanam sebagai suatu idealism yang harus saya wujudkan.

Wacana tersebut terus bersemayam di kepala saya hingga kuliah. Hingga suatu saat saya bertemu dengan organisasi yang menginginkan berdirinya Negara Islam di Indonesia ini. Waktu itu saya merasa inilah yang saya cari selama ini, bukan hanya wacana pengajian semata. Tapi ada pergerakan yang jelas.

Setelah masuk … ternyata … otak saya dicuci habis. Saya diajari meninggalkan sholat, katanya saat nabi mau menegakkan Islam di Makkah tidak wajib sholat, kalaupun sholat harus sembunyi-sembunyi, ada yang lebih penting dari sholat kata pemimpin saya, yaitu mencari anggota baru dan setor uang agar organisasi ini tetap berjalan. Saya diajari mencuri, karena harta yang di tangan orang luar organisasi kita halal diambil, anggap saja itu harta rampasan perang. Kuliah atau sekolah juga tidak penting, karena itu program pendidikan negara Jahiliyah yang harus kita tumpas.

Pencucian otak itu dibarengi dengan dalil-dalil atau ayat-ayat sehingga terdoktrin dibenak saya. Sampai saya berandai-andai saat itu, bila pimpinan menyuruh saya untuk melakukan harakiri / serangan musuh dengan mengorban diri saya tentu akan saya lakukan.

Ditulis ulang oleh :
Bahtiar Rifai
Mantan NII KW 9
HP. 08132 8484 289
Email : bahtiar@gmail.com
Ilustrasi diambil dari situs [ini]