>IKUT NII ZAYTUN, TAPI TETAP KRITIS PERASAAN & PIKIRAN ?

>Assalamu’alaikum Wr Wb

Saya mahasiswi di Jogja, saya diajak masuk NII sama teman saya, kurang lebih sebulan yang lalu. mulai di TL bulan september akhir, lalu melewati tazkiyah. keharusan membayar operasional saya X.XXX.XXX, saya baru bayar 500.000 saja.

sampai sekarang belum di MH (?) karena masalah finansial. meskipun sudah mengalami tes dengan si ‘bapak X’ dan ‘bapak Z’ dan mereka bilang saya lulus. meskipun selama ini saya selalu ragu dan ngga tenang, karena agak aneh, tapi masuk di akal. saya jalanin saja. saya pernah kumpul kobilah2 gitu, dan udah tau beberapa orang dari mereka. dan hampir semuanya saya kenal karena satu fakultas.

saya juga udah ketemu sama abi mereka. saya melihat mereka baik2 saja, ngga ada paksaan juga jadi saya ngga pikir macam2. dan mereka sepertinya percaya sama saya. kalo dasar hukum AlQur’an sih saya percaya aja. tapi begitu ayatnya diartiin, agak ngawang sih, kok seserampangan itu, tapi tetap masuk diakal.

dan saya berkali-kali nanya ‘Hadist nya mana?’ mereka cuma bilang ‘dari 4000 hadist kan yang shahih cuma 1000’. lalu pembicaraan selalu dialihkan. waktu saya bertanya tentang syarat dana, ‘misalkan orang itu kurang mampu secara finansial tapi berkualitas bagaimana, apa mereka bukan orang-orang terpilih?’ si pentazki agak bingung, begitu juga pas tahkim, ‘kalo membunuh kok ngga ada tahkimnya? keburu ditangkep polisi dong, berarti masih RI juga ya’ padahal saya hanya bercanda, namun dia agak salting. dan masih banyak kejanggalan lain, tapi hati saya masih setengah2 percaya.

kalo sudah mulai nggak yakin saya buka Alqur’an secara acak, lalu ketemu jawabannya di halaman itu dan sangat mengena, sesuai kondisi saya. ini bukan mengada-ada, selalu saja ada yg menenangkan dan memperingati di bacaan Al-Qur’an. dan selalu saya tulis ulang di diary saya. kemudian saya yakin lagi kalau jihad harta dan jiwa memang wajib hukumnya, jadi saya semakin gencar mengumpulkan uang jajan untuk bayar uang MH.

pas tazki sholat yg dilakukan paling akhir, saya disuruh tulis 10 nama temen saya yang bisa saya ‘bawa’. kalo bisa bahkan sebanyak2nya. lalu seminggu kedepan saya harus mulai mendekati target, yg saya tulis itu teman2 sma saya, saya sekolah di sma islam, mungkin cukup terkenal di indonesia, dan hubungan saya dan teman2 sma saya dekat sekali seperti keluarga, awalnya saya semangat karena ingin ‘menyelamatkan mereka’. lalu ketika saya bertanya keluarga mereka bilang ‘jangan, keluarga nanti aja, kan masih “mudah-mudahan”‘, hmm, katanya selamat sejahtera untuk seluruh umat tapi kok pilih2 ya.

dan cara mereka merekrut itu saya kurang suka, saya bilang ke mereka, jangan pakai cara bohong, atau mengiming2i orang dengan sesuatu apa lagi lawan jenis. yang pakai lawan jenis ini bener2 saran dari orang yang merekrut saya, saya bingung padahal mereka punya tahkim untuk zina, tapi menarik orang dengan cara ini membuat saya mulai mengurangi kadar keyakinan akan mereka.

penasaran cari di Al-Qur’an dapatlah An-Nahl : 105
“Sesungguhnya yang mengadakan kebohongan hanyalah orang-orang yang tidak beriman kepada Ayat-ayat Allah, dan mereka itulah orang-orang pendusta”
saya bingung, AlQur;an itu kan kebenarannya pasti, dan cara mereka juga nggak semenakutkan yang diceritakan di internet, mereka ngga memasukkan saya ke kamar petak, cara penyampaiannya santai, mereka bilang ‘mensucikan harta orang tua’, mereka juga berkegiatan positif, mereka membuat usaha sendiri, dan hasilnya untuk NII dan mereka. itu yang saya nilai lebih dari mereka dan menganggap NII ini memang nyata.

saya harus menyampaikan kebenaran. masalahnya saya tidak tahu NII ini yang NII benar atau bukan, mereka selalu bilang “NII ada yg buatan RI, dan mereka bikin yang jelek2nya aja, jadi jangan terpengaruh kalo ada berita jelek itu bukan NII ini kok, namanya juga media, yang berkuasa yang menang”.
saya dijanjikan foto lokasi pusatnya, dan itu Al Zaytun, waktu itu saya blm pernah dengar sebelumnya, karena bagus, ya saya percaya. dan sekarang NII bilang NII KW9 Al Zaytun itu NII buatan RI, saya jadi bingung.

nah ini jadi saya termasuk orang yang mana pak? saya merasa munafik, apa keraguan ini terjadi sama bapak dulu?

saya blm diajari oleh orang yg lebih ‘sepuh’ karena selama ini saya hanya di tazki sama teman seangkatan, sebenarnya saya penasaran, tapi sekaligus takut.
saya harus gimana? keluar atau gimana?

dan bagai mana cara mereka memilih ayat2 seperti itu? apa saya sudah mereka program otaknya untuk mengartikan AlQur’an dari sudut pandang berbeda, karena disatu sisi saya takut, tapi begitu membaca ayat saya kembali mengerti?

tolong tanggapannya pak, saya panik. maaf panjang ceritanya, terimakasih ya🙂
Wassalamu’alaikum.

======

Wa’alaikum salam Saudari Mahasiswi,
saya jawab per alinea agar fokus🙂

On 11/3/10, mhswijgj@yahoo.com wrote:
> Assalamu’alaikum Wr Wb
> Saya mahasiswi di Jogja, saya diajak masuk NII sama teman saya, kurang
> lebih sebulan yang lalu. mulai di TL bulan september akhir, lalu melewati
> tazkiyah. keharusan membayar operasional saya X.XXX.XXX, saya baru bayar
> 500.000 saja.

Hati-hati untuk kobilah-kobilah Jawa Tengah & DIY, sejak Gubernur NII ditangkap polisi dan MUI Jogja & Jawa Tengah, bawahannya jadi liar. Mereka tetap menyebarkan ajaran NII Zaytun dan merekrut anggota-anggota baru, tapi uang hijrah & infaq yang didapat tidak disetorkan ke atasnnya (karena atasannya ditangkap polisi) tapi dinikmati oleh para perekrut-perekrut tersebut.

> sampai sekarang belum di MH (?) karena masalah finansial. meskipun sudah
> mengalami tes dengan si ‘bapak X’ dan ‘bapak Z’ dan mereka bilang saya
> lulus. meskipun selama ini saya selalu ragu dan ngga tenang, karena agak
> aneh, tapi masuk di akal. saya jalanin saja. saya pernah kumpul kobilah2
> gitu, dan udah tau beberapa orang dari mereka. dan hampir semuanya saya
> kenal karena satu fakultas.

Syukurlah anggota-anggota kobilah Saudari tersebut adalah sudah dikenali / satu fakultas. Coba amati dan perhatikan prestasi akademik mereka, hubungan pertemanan mereka, relasi hubungannya dengan keluarga dan orang tua kandung, akhlak mereka, budi pekerti mereka, dan budi bahasa yang mereka gunakan dalam tazkiyah, apakah makin mendekati contoh Rosulullah Nabi Muhammad SAW atau malah makin jauh dari Islam ?

> saya juga udah ketemu sama abi mereka. saya melihat mereka baik2 saja, ngga
> ada paksaan
>  juga jadi saya ngga pikir macam2. dan mereka sepertinya percaya sama saya.
> kalo dasar hukum AlQur’an sih saya percaya aja. tapi begitu ayatnya
> diartiin, agak ngawang sih, kok seserampangan itu, tapi tetap masuk diakal.
> dan saya berkali-kali nanya ‘Hadist nya mana?’ mereka cuma bilang ‘dari 4000
> hadist kan yang shahih cuma 1000′. lalu pembicaraan selalu dialihkan. waktu
> saya bertanya tentang syarat dana, ‘misalkan orang itu kurang mampu secara
> finansial tapi berkualitas bagaimana, apa mereka bukan orang-orang
> terpilih?’ si pentazki agak bingung, begitu juga pas tahkim, ‘kalo membunuh
> kok ngga ada tahkimnya? keburu ditangkep polisi dong, berarti masih RI juga
> ya’ padahal saya hanya bercanda, namun dia agak salting. dan masih banyak
> kejanggalan lain, tapi hati saya masih setengah2 percaya.

Bagus, berarti Saudari tetap menjaga ke-kritis-san akal pikiran dan kebeningan perasaan hati nurani selama ikut NII Zaytun. Tetap terus pelajari bagaimana mereka menyikapi segala permasalah yang timbul dalam kehidupan sehari-hari. Apakah ada contoh dalam Sejarah Nabi, bila ditanya umatnya dijawab “ngeles’ atau mengalihkan pembicaraan atau perhatian

> kalo sudah mulai nggak yakin saya buka Alqur’an secara acak, lalu ketemu
> jawabannya di halaman itu dan sangat
>  mengena, sesuai kondisi saya. ini bukan mengada-ada, selalu saja ada yg
> menenangkan dan memperingati di bacaan Al-Qur’an. dan selalu saya tulis
> ulang di diary saya. kemudian saya yakin lagi kalau jihad harta dan jiwa
> memang wajib hukumnya, jadi saya semakin gencar mengumpulkan uang jajan
> untuk bayar uang MH.
> pas tazki sholat yg dilakukan paling akhir, saya disuruh tulis 10 nama temen
> saya yang bisa saya ‘bawa’. kalo bisa bahkan sebanyak2nya. lalu seminggu
> kedepan saya harus mulai mendekati target, yg saya tulis itu teman2 sma
> saya, saya sekolah di sma islam, mungkin cukup terkenal di indonesia, dan
> hubungan saya dan teman2 sma saya dekat sekali seperti keluarga, awalnya
> saya semangat karena ingin ‘menyelamatkan mereka’. lalu ketika saya bertanya
> keluarga mereka bilang ‘jangan, keluarga nanti aja, kan masih
> “mudah-mudahan”‘, hmm, katanya selamat sejahtera untuk seluruh umat tapi kok
> pilih2 ya.

Lah ! di sini loyalitas Saudari pada NII Zaytun mulai diuji🙂 Coba renungkan dalam-dalam, Saudari belum yakin benar dan masih baru di NII Zaytun tapi sudah disuruh mengajak teman-teman dekat / SMA ? Sebaiknya pelajari dulu apa itu NII Zaytun dari berbagai sumber bacaan, jangan hanya dari Pimpinan di NII saja. Coba tanyakan pada guru-guru sejarah, pada alim ulama, pada ustad-ustadzah, pada siapapun yang Saudari percaya mengerti apa itu NII Zaytun, dan kalau perlu datang ke kantor MUI / Depag setempat. Jangan sampai Saudari berniat “menyelamatkan” teman-teman SMA tapi yang terjadi malah “menyesatkannya” ….😦

> dan cara
>  mereka merekrut itu saya kurang suka, saya bilang ke mereka, jangan pakai
> cara bohong, atau mengiming2i orang dengan sesuatu apa lagi lawan jenis.
> yang pakai lawan jenis ini bener2 saran dari orang yang merekrut saya, saya
> bingung padahal mereka punya tahkim untuk zina, tapi menarik orang dengan
> cara ini membuat saya mulai mengurangi kadar keyakinan akan mereka.
> penasaran cari di Al-Qur’an dapatlah An-Nahl : 105″Sesungguhnya yang
> mengadakan kebohongan hanyalah orang-orang yang tidak beriman kepada
> Ayat-ayat Allah, dan mereka itulah orang-orang pendusta”

Betul sekali, Nabi Muhammad dalam mengajak ber-Islam umat di sekitarnya pertama menggunakan cara sembunyi-sembunyi dan kemudian terang-terangan setelah umat nya banyak. Tidak ada cara berbohong, bersandiwara, dikepung dengan 2 atau 3 pentilawah, apalagi menggunakan daya tarik lawan jenis …. Naudhubillah hi min ndalik ….😦

> saya bingung, AlQur;an itu kan kebenarannya pasti, dan cara mereka juga
> nggak semenakutkan yang diceritakan di internet, mereka ngga memasukkan saya
> ke kamar petak, cara penyampaiannya santai, mereka bilang ‘mensucikan harta
> orang tua’, mereka juga berkegiatan positif, mereka membuat usaha sendiri,
> dan hasilnya untuk NII dan mereka. itu
>  yang saya nilai lebih dari mereka dan menganggap NII ini memang nyata.

Idiom atau istilah “mensucikan harta orang tua” memang menjadi jargon mereka dalam setiap meminta uang dari anggota-anggota baru. Jargon tersebut akan melecut semangat anggota-anggota baru dalam mengambil harta orang tuanya bahkan dengan segala cara. Bisa berpura-pura meminta uang pada orang tua untuk mengganti HP / Laptop / Motor teman yang telah dirusakkan / dihilangkan secara tidak sengaja, membuat proposal fiktip tentang pembangungan masjid, penyantunan yatim piatu, atau bakti sosial. Meminta uang untuk kegiatan kampus, praktikum, studi banding, penelitian, dan lain sebagainya.

> saya harus menyampaikan kebenaran. masalahnya saya tidak tahu NII ini yang
> NII benar atau bukan, mereka selalu bilang “NII ada yg buatan RI, dan mereka
> bikin yang jelek2nya aja, jadi jangan terpengaruh kalo ada berita jelek itu
> bukan NII ini kok, namanya juga media, yang berkuasa yang menang”.

Betul sekali pernyataan di atas. Agar Saudari mendapat data, fakta, kenyataan, dan pengakuan langsung netral objective, tetap ikut NII Zaytun tersebut dengan menjaga ke-kritis-san pikiran dan hati nurani. Akan tersaji di depan mata dan telinga apa-apa yang Saudari pertanyakan tersebut. Lebih baik Saudari melihat dan mendengar langsung dari pengalaman Saudari ikut NII Zaytun. Nah, untuk menjaga daya kritis, tetap perbanyak bacaan atau referensi tentang NII Zaytun dari berbagai sumber, jangan hanya dari Pimpinan di NII Zaytun saat Tazkiyah ataupun Tilawah.

saya
> dijanjikan foto lokasi pusatnya, dan itu Al Zaytun, waktu itu saya blm
> pernah dengar sebelumnya, karena bagus, ya saya percaya. dan sekarang NII
> bilang NII KW9 Al Zaytun itu NII buatan RI, saya jadi bingung.

Mudah sekali Saudari. Untuk mengetahui apa itu Mahad Zaytun cukup buka http://www.google.com, masukkan kata kunci pencarian Mahad Zaytun. Akan tersaji aneka daftar website-website buatan orang-orang / santri-santri / ustad-ustadzah Zaytun maupun Mantan Santri / Ustad Zaytun. Dengan ilmu metodologi ilmiah yang Saudari dapat dari SMA maupun di bangku kuliah, Insya Allah menjadi petunjuk apa itu sebenarnya Mahad Zaytun.

> nah ini jadi saya termasuk orang yang mana pak? saya merasa munafik, apa
> keraguan ini terjadi sama bapak dulu ?

Benar Saudari, keraguan selama ikut NII Zaytun pernah saya tulis panjang lebar di link : http://niikw9.wordpress.com/2009/02/13/pengalamanku-di-nii-kw9/ silahkan dibaca dan dicermati

> saya blm diajari oleh orang yg lebih ‘sepuh’ karena selama ini saya hanya di
> tazki sama teman seangkatan, sebenarnya saya penasaran, tapi sekaligus
> takut.saya
>  harus gimana? keluar atau gimana?

Yang “sepuh” menang sudah tidak ada, karena sudah ditangkapi oleh aparat kepolisian bersama MUI Setempat. Bila keikutsertaan Saudari di NII Zaytun belum membahayakan dari sisi nyawa maka tetaplah bertahan sampai mendapati segala jawaban secara ilmiah dan objective atas rasa penasaran Saudari. Bila perlu datang ke ulama / kantor MUI, Pengurus Masjid Kampus UGM, Unit Kerohanian Islam Kampus UNY & UIN, Insya Allah akan segera mendapat segala kejelasan secara langsung. Karena banyak Mantan-mantan NII Zaytun yang ada di tempat-tempat tersebut.

> dan bagai mana cara mereka memilih ayat2 seperti itu? apa saya sudah mereka
> program otaknya untuk mengartikan AlQur’an dari sudut pandang berbeda,
> karena disatu sisi saya takut, tapi begitu membaca ayat saya kembali
> mengerti?

Betul, sebagian doktrin dan metode cara menafsirkan ayat versi NII Zaytun telah merasuk dalam benak dan pikiran Saudari. Untuk memulihkan dan mendapatkan penilaian yang netral dan objective, coba buka kembali dan pelajari Sejarah cara-cara Nabi menyampaikan ayat-ayat pada umatnya. Tafsir-tafsir yang digunakan ulama-ulama terpercaya, Sanad dan Matan hadist penjelas dan penguat Al Qur’an.

> tolong tanggapannya pak, saya panik. maaf panjang ceritanya, terimakasih ya
> :)Wassalamu’alaikum.

Tenang Saudari Mahasiswi, kepanikan Saudari menunjukkan Allah masih melindungi Saudari dengan tetap menjaga kekritisan Akal Pikiran dan Hati Nurani Saudari. Bila Saudari merasa tenang-tenang saja dan menerima semua materi dari ajaran NII Zaytun, Nah ! itu malah bahaya🙂

Demikian semoga penjelasan saya bisa membantu memahami kegelisahan yang ada. Bila ada yang dipertanyakan silahkan kirim email lagi.

Wa’alaikum salam,
bahtiar
mantan nii zaytun
HP : 08132 8484 289
Email : bahtiar@gmail.com